Baskara Putra Musik Saya Bukan untuk Gen Z, Namun Ternyata Mereka Paling Terwakili
Baskara Putra Musik Saya Bukan untuk Gen Z, Namun Ternyata Mereka Paling Terwakili Baskara Putra termasuk salah satu musisi Indonesia yang banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Melalui proyek musik Hindia, ia konsisten menghadirkan lagu-lagu dengan lirik reflektif, jujur, dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Selain itu, ia kerap mengangkat isu yang jarang dibahas secara gamblang, seperti kelelahan mental, tekanan hidup, dan kebingungan menghadapi masa depan.
Musik yang Tidak Disasar untuk Generasi Tertentu
Lebih menarik lagi, Baskara menyatakan bahwa ia tidak secara khusus menciptakan musik untuk Gen Z atau generasi mana pun. Ia menulis lagu berdasarkan pengalaman personal dan kegelisahan yang ia rasakan sendiri. Tidak ada strategi segmentasi usia dalam proses kreatifnya. Lagu-lagunya lahir sebagai bentuk ekspresi diri, bukan sebagai produk yang di rancang untuk mewakili kelompok tertentu.
Gen Z dan Realitas Kehidupan yang Kompleks
Gen Z tumbuh dalam situasi sosial yang penuh ketidakpastian. Persaingan akademik dan dunia kerja yang ketat, tuntutan untuk selalu produktif, serta paparan media sosial yang intens menciptakan tekanan psikologis yang besar. Dalam kondisi ini, lagu-lagu Hindia hadir sebagai ruang pengakuan.
Dengan demikian, musik Baskara tidak menawarkan solusi instan, tetapi menerima bahwa lelah, cemas, dan perasaan tidak baik-baik saja adalah hal yang wajar.
Lirik Jujur dan Minim Romantisasi
Salah satu kekuatan utama karya Baskara Putra terletak pada liriknya yang lugas dan minim romantisasi. Ia tidak membungkus kegelisahan dengan kata-kata indah yang berlebihan. Sebaliknya, ia memilih bahasa yang sederhana, realistis, dan langsung menyentuh emosi. Pendekatan ini sejalan dengan cara Gen Z memandang isu kesehatan mental, yang lebih terbuka dan berani mengakui kerentanan diri.
Peran Media Sosial dalam Keterwakilan
Media sosial turut berperan besar dalam memperkuat hubungan antara musik Hindia dan Gen Z. Lagu-lagunya sering di gunakan sebagai latar konten reflektif, cerita personal, hingga unggahan keseharian. Melalui platform di gital, pendengar bebas menafsirkan lagu sesuai pengalaman hidup masing-masing. Gen Z yang sangat akrab dengan ruang di gital menjadikan karya Baskara sebagai bagian dari narasi emosional mereka.
Musik Jujur yang Menembus Batas Generasi
Fenomena ini menunjukkan bahwa keterwakilan dalam musik tidak selalu harus di rancang secara sengaja. Musik yang lahir dari kejujuran emosional justru mampu menembus batas usia dan latar belakang. Baskara Putra tidak berusaha menjadi suara Gen Z, namun karyanya secara alami berbicara tentang kegelisahan universal yang juga di rasakan oleh generasi tersebut.
Dengan begitu, pernyataan bahwa musik Baskara Putra “bukan untuk Gen Z” tetap sejalan dengan kenyataan bahwa mereka merasa terwakili. Bahkan, karya-karyanya membuktikan bahwa kejujuran adalah bahasa universal dalam musik. Oleh karena itu, tanpa klaim besar atau strategi generasi, Baskara berhasil menghadirkan lagu-lagu yang relevan, bermakna, dan menjadi cermin perasaan banyak anak muda masa kini.